Mereka yang Tidak Merasa Tersaingi



























Rambut dapat mempengaruhi penampilan, baik pria maupun wanita.
Di era moderen dan canggihnya alat teknologi membuat masyarakat 
begitu mudah mengetahui trend rambut terkini.

Wanita mungkin identik dengan salon.
Pria, dari yang awalnya menggunakan jasa tukang gunting rambut manual tanpa listrik, 
hingga kini barber shop. Kecanggihan alat dan kenyamanan tempat membuat banyak pria
masa kini lebih memilih barber shop dibandingkan tukang rambut manual tanpa listrik.

Tetapi hal tersebut tak lantas membuat para tukang cukur manual merasa tersaingi dan gulung tikar.
Di Palu contohnya. Di Ibu Kota Sulawesi Tengah tersebut, sejak awal 90an para pekerja tukang gunting rambut manual telah menjual keahlian mereka di salah satu sudut jalan tepatnya di Persimpangan Jalan Kacang Panjang, Jalan Kunduri, Jalan Kemiri dan Jalan WR. Supratman.
Mereka saling berjejaran di depan pintu rumah toko (Ruko) yang tak lagi terpakai.
Lokasi ini berada tapat di samping Pasar Inpres Manonda, dari yang awalnya pasar tradisional
hingga kini menjadi pasar tradisional moderen.
Sampai saat ini, mereka tetap mempertahankan metode pengguntingan manual tanpa listrik.





























Kemampuan Boleh Diadu|| Ilyas (66), orang - orang memanggilnya Pakde, ada juga yang memanggilnya dengan sebutan Mas. Ia berasal dari Jawa, Tiba pertama kali di Kota Palu Tahun 1986. Sebelumnya ia mencoba mencari pekerjaan yang bisa memiliki pendapatan yang cukup besar tetapi tak kunjung dia dapati. Akhirnya pada Tahun 1990 ia berani untuk menjual keahlian gunting rambut yang dimilikinya. Katanya, pekerjaannya tersebut meski kecil tetapi selalu memiliki pendapatan per harinya. Ia tidak merasa tersaingi dengan tukang cukur moderen yang lebih canggih dari aspek alat dan lebih nyaman dari aspek tempat. Gunting manual memang kalah alat dan tempat, tetapi kemampuan boleh diadu. Itulah yang membuat kita tetap dicari oleh konsumen.





























Memiliki Pelanggan Tersendiri|| Ahyar (41), dulunya ia berkebun di daerah tempat tinggalnya yaitu Desa Sunju, Kecamatan Marawola Kabupaten Sigi yang terletak di Selatan Kota Palu. Setelah lahan kebunnya terjual, tahun 2001 ia memutuskan untuk beralih profesi menjadi tukang gunting rambut karena sebelumnya Ayah dan Kakeknya juga berprofesi yang sama. Ia tidak merasa tersaingi dengan tukang gunting lainnya yang lebih moderen, menurutnya gunting manual memiliki pelanggan tersendiri. Para anggota militer atau yang menyukai gaya rambut militer biasanya lebih memilih untuk menggunting rambut manual seperti di tempatnya saat ini. Ia pun sudah memiliki banyak pelanggan yang selalu datang kepadanya untuk menggunting rambut.






























Selera Tiap - tiap Orang|| Agus (46), mulai bekerja sebagai tukang gunting rambut pada tahun 1996. Pekerjaan tersebut sudah sangat ia cintai dan menjadi pekerjaan tetap baginya hingga nanti. Agus juga berasal dari Desa Sunju dan masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Ahyar. Menurutnya, sejak dunia serba canggih dan moderen seperti saat ini dan alat cukur pun mulai beragam, penghasilannya pun mulai menurun. Tetapi ia tidak terlalu memikirkan hal tersebut karena menurutnya, memilih tempat gunting rambut, entah itu gunting manual tanpa listrik seperti dirinya atau memilih menggunting rambut di pangkas rambut madura maupun barber shop, itu kembali lagi ke selera tiap - tiap orang.






























Rezeki Telah ada Yang Mengatur|| Hamdan (24), ia bisa terbilang baru di tempat di mana para tukang gunting lainnya bekerja saat ini. Sebelumnya ia sering berpindah tempat, mulai dari rumah, di dalam pasar, terminal hingga tempatnya saat ini. Ia merupakan warga asli Palu. Memiliki keahlian menggunting sejak SMP dan mulai berprofesi sebagai tukang gunting rambut sejak 2007. Ia memuji kelebihan yang dimiliki tukang gunting rambut lainnya yang lebih moderen seperti salon maupun barber shop. Selain nyaman, tempatnya juga tidak berdebu karena berada di dalam ruangan dan tak jarang ada yang memiliki alat pendingin ruangan. Sebelumnya sempat terpikir olehnya untuk menggunakan alat gunting listrik. Tetapi melihat keseragaman di tempatnya saat ini yang mana semuanya menggunakan alat manual tanpa listrik, ia pun mengurungkan niatnya tersebut. Kini ia mulai menikmati menggunakan alat tanpa listrik. Ia tidak merasa tersaingi dengan tukang gunting rambut lainnya baik dari sesama tukang gunting di tempatnya maupun yang lebih moderen. Menurutnya, rezeki telah ada yang mengatur. 




























Sudah Kebiaasaan|| Deny (26), ia juga merupakan warga asli Palu, tepatnya Desa Sunju. Bangku Sekolah Menengah Pertama adalah pendidikan terakhirnya. Ia berprofesi sebagai tukang gunting rambut, melanjutkan ayahnya dan juga mengikuti jejak pamannya yaitu Ahyar dan Agus. Menurutnya, gunting rambut secara manual tanpa listrik sudah menjadi kebiaasanya, ia bisa merasakan alat gunting dan menikmati setiap kali menggunting rambut pelangganya. Menurutnya menggunting rambut secara manual tanpa listrik lebih menjiwai karena harus menggunakan perasaan setiap menggerakkan alat gunting manual sehinigga bisa diketahui apakah alatnya tajam atau tumpul.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reklamasi Dan Modernisasi Teluk Palu

Hikayat Merpati Balap