Suku Bajau yang Resah dan Mulai Memikirkan Masa Depan
Laut| Suku Bajau yang dikenal sebagai pengembara lautan, tak bisa jauh dari perairan. Hidup berdampingan dengan air laut tak berarti mereka tidak membutuhkan air tawar.
Keresahan| Air tawar untuk keperluan minum dan masak menjadi keresahan bagi suku Bajau
yang tinggal di Desa Kulingkinari, Kecamatan Batudaka, Kepulauan Togean,
Sulawesi Tengah.
Perahu| Di Desa Kulingkinari sendiri terdapat 1076 warga dan 238 Kepala Keluarga
yang terbagi di dua dusun dan lima rukun tetangga (RT). Perahu merupakan alat
transportasi utama bagi mereka yang tinggal di kepulauan.
Tersebar| Suku Bajau yang nomaden tersebar di berbagai kepulauan dan daerah pesisir di
timur Indonesia dan telah beranak pinak.
Air Minum| Ketika kaum lelaki pergi melaut, kaum ibu pun sibuk mengambil dan memikul
air untuk keperluan minum dan masak yang jauhnya 2,5 km. Karena air yang bersumber di tiga buah sumur di Desa Kulingkinari memiliki air yang payau
sehingga hanya bisa digunakan untuk mencuci dan mandi.
Berkebun| Tak hanya mengandalkan hasil laut, sebagian warga desa Kulingkinari juga
berkebun. Dan ketika musim angin barat tiba berkebun menjadi pilihan utama ketimbang pergi melaut.
Gadget| Zaman terus bergerak, anak-anak Bajau tak hanya menghabiskan waktu bermain
di laut. Kini, tak jarang mereka menghabiskan waktu dengan gadget di tangan.
Sekolah| Anak suku Bajau pun kini memiliki keinginan besar untuk terus bersekolah. Ditambah lagi dorongan orang tua yang begitu kuat dengan harapan nantinya anak mereka tak hanya pandai mengail.
Sekolah| Tidak sedikit anak-anak suku bajau meninggalkan kampung mereka demi
melanjutkan sekolah hingga di perguruan tinggi.
Kehidupan| Dengan
terus bersekolah, harapan para orang tua di Desa Kulingkinari ialah anak suku
Bajau tidak hanya menjadi nelayan nantinya, tetapi bisa menjadi pejabat serta
memiliki peluang lebih besar untuk kehidupan di masa mendatang.






Komentar
Posting Komentar