Kumpul Haru Di Perumnas Balaroa
Lebaran telah usai, Di Indonesia, berkumpul bersama keluarga
setelah melaksanakan sholat id sudah merupakan tradisi sejak lama, seperti yang
dilakukan di Perumnas Balaroa, Kota Palu Sulawesi Tengah, tradisi kumpul
keluarga berlangsung begitu haru, karena kini tak ada lagi bangunan rumah
yang saban tahun digunakan untuk kumpul keluarga. Tak ada lagi ruang tamu
tempat bersalam salaman dan tak ada lagi ruang keluarga tempat berkumpul
menyantap hidangan terbaik. Gempa bumi dan likuifaksi menghancurkan rumah dan mengubur beberapa
anggota keluarga pada 28 September 2018.
Agung (32), membawa anak dan istrinya ke Perumnas Balaroa, di
mana rumahnya pernah berdiri. Kumpul keluarga kali ini begitu membuatnya sedih. Ibunya, juga pamannya beserta keponakannya menjadi korban saat
likuifaksi meluluhlantakkan Perumnas Balaroa. Hanya doa yang ia panjatkan
setelah sebelumnya menabur bunga di sisa reruntuhan bangunan.
Keluarga Bapak H. Tangge (60), usai melaksanakan Sholat Id
ia mengajak anggota keluarganya berkunjung ke bekas rumah yang menjadi tempat
kumpul keluarga setiap kali lebaran. Sepuluh anggota keluarganya menjadi
korban pada 28 September silam, terdiri dari sepupu, keponakan, dan cucu yang
semuanya tidak ditemukan jasadnya. Kumpul keluarga H. Tangge berlangsung tidak
berapa lama, selesai melakukan doa bersama keluarganya, ia pun bergegas
meninggalkan Perumnas Balaroa.
Hamjat (40) memakai sorban, memisahkan diri dari keluarganya, duduk
bermunajat kepada Allah. Sementara Istrinya duduk bersila menatap kosong ke
arah reruntuhan yang diyakini adalah rumah mereka di Perumnas Balaroa. Lebaran tahun lalu Orang Tua sang
istri masih bersama mereka berkumpul di rumah usai melaksanakan sholat. Begitu juga anak keduanya
yang bernama Mahsyar (14). Baik mertua dan juga anaknya tidak ditemukan
jasadnya namun ia percaya Tuhan mengangkat keluarganya ke langit tidak hanya
ruhnya saja melainkan juga dengan jasadnya.
Sejumlah Pemuda berpose di depan tiang menara mesjid Darul
Muttaqin yang telah roboh. Mereka semuanya lahir dan besar di Perumnas Balaroa.
Usai melaksanakan sholat mereka berkumpul, mengenang teman dan keluarga yang
menjadi korban pada 28 September silam. Mereka juga merupakan anggota Risma
Mesjid Darul Muttaqin.
Wawan (44), Usai Sholat Id, Ia datang ke Perumnas Balaroa
untuk sekedar menyiram air dan menabur bunga di sisa reruntahan rumahnya.
Tak Lupa ia menghantarkan doa. Berziarah yang merupakan tradisi saat lebaran tiba kali ini berbeda dari tahun sebelumnya. Kini Wawan beserta keluarga melakukan ziarah di area dimana diyakini rumahnya terkubur beserta Ibu, adik dan keponakannya.
Muh. Rum (29), datang dengan menggunakan sepeda motor beserta
istri dan dua anaknya. Ia berziarah ke lokasi dimana Ibunya ditemukan dalam
keadaan tak bernyawa. Di lokasi tersebut ia tanamkan pusara, tempatnya menabur
bunga dan mengirim doa kepada ibu dan keponakannya yang menjadi korban pada 28
September silam.
Arman (45) mengajak
keluarganya berkumpul di reruntuhan rumahnya di Perumnas Balaroa. Setiap
kali lebaran rumahnya selalu menjadi tempat kumpul keluarga usai melaksanakan
sholat. Pada 28 September Ibunya menjadi korban, beruntung jasadnya berhasil
ditemukan.
Burhan (40), membawa istri dan anaknya ke Perumnas Balaroa,
ia melakukan ziarah. Di sisa reruntuhan rumahnya ia menyiram air, menabur
bunga, dan memanjatkan doa untuk kakak dari sang istri yang menjadi korban pada
28 September.
Ithank (36), guru mengaji bagi anak-anak di
Perumnas Balaroa, sejak 2011 ia mengajar ngaji di mesjid Darul Muttaqin. Ia
hanyut dalam doa dan tangisan mendoakan anaknya dan juga anak-anak didiknya
yang menjadi korban saat likuifaksi terjadi.
Nur Hidayah (36), membaca doa di sisa bangunan dimana
bangunan tersebut berada tepat di depan rumahnya yang kini tak ada lagi. Terkubur beserta ibunya. Setelah itu,
suaminya juga berdoa untuk almarhum adiknya.
Fivca (43) ditemani kedua saudaranya, ia mendatangi Perumnas Balaroa. Mereka memanjatkan doa di dua tempat, pertama di samping bangunan mesjid, untuk Ibu mereka yang pada kejadian 28 September sedang
melaksanakan sholat maghrib. Kemudian mereka berkumpul dan berdoa di reruntuhan rumahnya dimana anaknya juga menjadi korban. Mereka percaya bahwa
semua yang menjadi korban pada 28 September adalah mati syahid dan ditempatkan
di tempat terbaik di sisi Allah Swt.











Komentar
Posting Komentar