Angkutan Kota di Ambang Kepunahan
Pernah suatu ketika, Ayah saya melakukan kontrol penyakitnya di salah satu rumah sakit di kota Palu. Setelah selesai, dia mengirim pesan singkat. Katanya dia telah selesai kontrol dan tak perlu menjemputnya, dia ingin melanjutkan rapat dan ingin naik angkot saja. Namun saat itu Ayah saya harus menunggu satu jam hingga akhirnya angkot lewat dan membawanya ke tempat rapat. Angkot atau angkutan Kota, di Palu disebutnya taksi, Adapun taksi bersistem argometer disebut ‘argo’. Ketika saya kecil saya begitu akrab dengan taksi. Setiap berkunjung ke rumah nenek pasti menggunakan taksi yang saat itu masih mudah ditemukan di jalanan. Berbeda kini, bahkan Ayah saya harus menunggu selama satu jam hanya untuk satu taksi yang lewat. Saya tidak menyalahkan perubahan. Tapi saya berkaca pada kota – kota lainnya yang merupakan Ibu Kota Provinsi namun masih begitu mudah ditemukan angkutan kota dengan banyak penumpang, seperti Makassar, Manado, Surabaya, Bandung dan kota – kota lainnya. Kemudahan masyarakat membeli kendaraan pribadi, ditambah hadirnya jasa trasnportasi daring tidak serta merta membuat angkutan kota hilang dari jalanan. Geoffrey West (2010) dalam penelitiannya mengatakan bahwa kota, angkutan umum, dan kendaraan pribadi memiliki sebuah hubungan yang unik dan rumit.
Transportasi perkotaan memiliki peran yang strategis dalam membentuk peradaban kota. Permasalahannya, sektor transportasi sering kali tidak diletakkan pada posisi yang tepat. Kini angkot di kota Palu seperti berada pada mode bertahan hidup. Survival of fittest. Bertahan untuk cocok atau punah.
Suatu pagi di simpang empat
Pasar Tradisional Manonda Kota Palu, Sukri (50) berdiri dengan menyandarkan
punggungnya di pintu sebuah taksi. Mengenakan baju putih, dia sesekali memanggil
orang-orang, menawarkan untuk naik ke taksinya. Di tempatnya mangkal terdapat
empat buah taksi yang semuanya belum terisi penumpang. Sukri, adalah salah satu
supir taksi yang masih menjalankan taksi sesuai trayeknya, hanya saja penumpang
yang didapat juga tidak seberapa, sehingga dia harus menambah trayek ke luar
kota Palu demi menambah penghasilan.
![]() |
| Artin (51) |
Berbekal informasi dari supir yang saya temui di simpang empat pasar Manonda, saya bergerak menuju jalan Maleo. Setelah bertanya kepada beberapa warga, saya sampai di sebuah bengkel. Di sini terdapat tujuh taksi tua yang terparkir. Bengkel dan angkot-angkot ini milik Astam (50).
“saya pernah punya sepuluh
buah angkot, tetapi supir – supir sudah susah cari makan lewat angkot, belum
lagi harus keluarkan biaya perawatan. Akhirnya angkot hanya terparkir di
halaman, berubah menjadi besi tua.” Ujar Astam (50)
Di Sisi barat pasar Manonda,
Artin (51) telah menjadi supir taksi di Kota Palu sejak Tahun 1983. Dia memarkirkan taksinya menghadap timur. Duduk
di kursi depan sambil menunggu satu per satu penumpang langganannya keluar dari
pasar. “Sekarang penumpang di jalan
sudah tidak banyak. Saya hanya mengharapkan penumpang di pasar saja, itupun
penumpang yang sudah berlangganan dengan saya.”
Sementara itu, menurut penumpang
yang berlangganan dengan Artin, saat ini kehadiran transportasi online juga menjadi penyebab menurunnya
animo masyarakat menggunakan taksi. “Sekarang
sudah ada grab dan gojek, belum lagi kalo lima anak di rumah, berarti lima juga
motor dibelikan untuk anak” Ucap Asria (45).
Penyebab lain juga datang dari
para supir taksi itu sendiri, dikarenakan tidak menjalankan trayek yang
ditetapkan sebelumnya. Namun lebih jauh, ada penyebab yang merupakan hal
mendasar yang tidak menjadi perhatian dan pembicaraan publik yaitu UU Nomor 22
Tahun 2009 tentang angkutan jalan yang belum tepat sasaran. Diantaranya,
pengawasan semua terminal yang tidak efisien, tidak adanya pengawasan angkutan
umum dalam trayek oleh instansi terkait, dan juga jumlah angkutan dan jalan
yang tidak sesuai. Ditambah lagi peran Organda sebagai organisasi yang
mengurusi angkutan darat tidak berjalan dan bekerja sebagaimana mestinya.









Komentar
Posting Komentar