Angkutan Kota di Ambang Kepunahan
Pernah suatu ketika, Ayah saya melakukan kontrol penyakitnya di salah satu rumah sakit di kota Palu. Setelah selesai, dia mengirim pesan singkat. Katanya dia telah selesai kontrol dan tak perlu menjemputnya, dia ingin melanjutkan rapat dan ingin naik angkot saja. Namun saat itu Ayah saya harus menunggu satu jam hingga akhirnya angkot lewat dan membawanya ke tempat rapat. Angkot atau angkutan Kota, di Palu disebutnya taksi, Adapun taksi bersistem argometer disebut ‘argo’. Ketika saya kecil saya begitu akrab dengan taksi. Setiap berkunjung ke rumah nenek pasti menggunakan taksi yang saat itu masih mudah ditemukan di jalanan. Berbeda kini, bahkan Ayah saya harus menunggu selama satu jam hanya untuk satu taksi yang lewat. Saya tidak menyalahkan perubahan. Tapi saya berkaca pada kota – kota lainnya yang merupakan Ibu Kota Provinsi namun masih begitu mudah ditemukan angkutan kota dengan banyak penumpang, seperti Makassar, Manado, Surabaya, Bandung dan kota – kota lainnya. K...